Thursday, April 30, 2020

Apa Itu Hydroxychloroquine ? Disebut Potensial Sebagai Obat Corona


Kasir4D Beberapa waktu lalu, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa hydroxychloroquine atau obat anti-malaria sangat berpotensi untuk mengatasi wabah virus Corona COVID-19. Bahkan obat ini telah digunakan untuk merawat 4.000 pasien Corona di New York.

Dalam beberapa kasus, penggunaan hydroxychloroquine dikombinasikan dengan obat lainnya, seperti antibiotik Zithromax atau azithromycin. Hasil yang diberikan pun cukup menjanjikan.

Apa sih hydroxychloroquine itu?

Hydroxychloroquine adalah obat quinoline yang digunakan untuk mengobati atau mencegah penyakit malaria, yaitu penyakit yang disebabkan parasit yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk. Tetapi, obat ini tidak efektif untuk mengatasi semua jenis malaria.


Mengutip Medlineplus, obat ini juga ditujukan untuk anti-rematik. Bisa digunakan untuk mengobati gejala rheumatoid arthritis, untuk mengurangi rasa sakit dan pembengkakan pada radang sendi.

Selain itu, kegunaan lain dari obat ini juga bisa mencegah dan mengobati discoid lupus erythematosus (DLE) suatu kondisi peradangan kronis pada kulit. Dan, systemic lupus erythematosus (SLE) yaitu suatu kondisi peradangan kronis pada tubuh.

Apa ada efek sampingnya?

Seperti obat pada umumnya, hydroxychloroquine juga memiliki efek samping saat mengkonsumsinya. Beberapa efek samping yang biasanya muncul, seperti:

- Sakit kepala
- Mual
- Diare
- Sakit perut
- Pusing
- Kehilangan selera makan
- Muntah
- Ruam

Dilansir dari Drugs, ada beberapa efek samping lain yang jarang terjadi. Misalnya terjadi perubahan pigmen kulit, perubahan rambut, otot lemah, kehilangan penglihatan, hingga gangguan aritmia jantung jika dosisnya tidak sesuai.

Dosis penggunaan

Dalam mengkonsumsi hydroxychloroquine harus sesuai dengan arahan dokter. Jangan mengkonsumsinya kurang atau lebih dari dosis yang diberikan. Bahkan, penggunaan hydroxychloroquine ini hanya diberikan setiap satu minggu sekali atau tergantung arahan yang diberikan.

Untuk mengobati pasien virus Corona, Badan Badan Pengawas Makanan dan Obat Federal telah memberikan izin penggunaan darurat hydroxychloroquine ini. Tapi, obat ini harus melalui penelitian yang lebih lanjut lagi. Togel Online

Wednesday, April 29, 2020

Ini Adalah Ancaman Kerusakan Paru-paru Setelah Sembuh Dari Virus Corona


Kasir4D Dalam sebuah laporan peneliti dalam jurnal Radiology pada Maret lalu, 66 dari 70 pasien COVID-19 yang sembuh dari gejala berat dan sempat mengalami pneumonia menunjukkan tanda-tanda kerusakan paru ketika menjalani pemindaian CT scan. Pemindaian ini dilakukan sebelum pasien dipulangkan dari rumah sakit.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Yuhui Wang, ahli radiologi di Universitas Sains dan Teknologi Huazhong di Wuhan, China, menyebut di antara kerusakan visual yang nampak, ditemukan adanya gumpalan padat jaringan keras yang menghalangi pembuluh darah. Terdapat juga lesi jaringan yang menjadi tanda-tanda potensi penyakit paru kronis.

Kerusakan ini serupa pada pasien yang sembuh dari SARS dan MERS, penyakit yang juga disebabkan oleh virus Corona.



Menurut penelitian jangka panjang pada pasien SARS, sekitar sepertiga dari mereka yang pulih mengalami kerusakan paru permanen. Sementara pada pasien MERS, secara umum terdapat kerusakan paru yang ditemukan tujuh bulan setelah sembuh.

"Perbedaannya adalah, bisa jadi pasien COVID-19 yang pulih akan menghadapi masalah yang lebih serius. Jika pada pasien SARS dan MERS, dampaknya hanya terjadi pada satu paru-paru, maka COVID-19 mempengaruhi keduanya," demikian dikutip dari Medical Daily.

Sebanyak 75 dari 90 pasien yang dirawat di Rumah Sakit Universitas Huazhong dengan kasus pneumonia COVID-19, kerusakan sudah terlihat pada kedua paru-paru.


Ketika pemindaian CT dilakukan sebelum dipulangkan, 42 dari 70 pasien menunjukkan jenis lesi di sekitar alveoli yang lebih mungkin berkembang menjadi bekas luka.

Oleh karena itu, perang melawan COVID-19 mungkin tidak berhenti setelah mereka pulih atau saat pandemi mereda. Kondisi penyakit paru kronis tentu dapat mempengaruhi kondisi sesseorang dalam jangka panjang.

Per studi kasus yang dilakukan di Wuhan, ada kemungkinan luka di paru-paru pseun dapat sembuh dan menghilang. Togel Online


Namun beberapa pasien dengan kelainan paru akan mengalami jaringan parut dan berkembang menjadi fibrosis paru.

Sejumlah pasien berisiko mengalami kondisi tersebut, terutama lansia dan pasien dengan penyakit komorbid.

Tuesday, April 28, 2020

Apakah Benar Ventilator Berbahaya Bagi Paru-paru Pasien Corona


Kasir4D Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Intensive Care National Audit and Research Centre (ICNARC) mengklaim bahwa pasien Corona yang dirawat dengan alat bantu pernapasan ventilator memiliki peluang hidup yang lebih kecil.

Berdasarkan studi yang dilakukan ICNARC, pasien virus Corona COVID-19 yang dirawat menggunakan ventilator hanya memiliki peluang hidup sebesar 34 persen.

Klaim ini didasari penelitian yang dilakukan dengan memantau sebanyak 6.720 persen pasien COVID-19 yang kritis.

https://bit.ly/kasir4d

Dikutip dari Daily Star, data menunjukkan pasien kritis yang menggunakan ventilator meninggal sebanyak 65,4 persen.

Sedangkan yang masih bisa berjuang untuk hidup dan sembuh sebanyak 34,6 persen.

ICNARC kemudian membandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan ventilator. Hasilnya pasien yang pulih bisa mencapai 81,9 persen, sedangkan meninggal hanya 18,1 persen.

Beberapa dokter mengklaim bahwa ventilator bisa membahayakan pasiennya, karena meningkatkan peradangan pada paru-paru.


Saat oksigen dipompa ke paru-paru, aksi ini akan mengiritasi organ dan merusaknya lebih lanjut. Togel Online

"Ventilator itu bisa merusak jaringan paru-paru berdasarkan berapa banyak tekanan yang diperlukan, untuk membantu paru-paru memproses oksigen lagi," kata Dr Tiffany Osborn, seorang spesialis perawatan kritis di Fakultas Kedokteran Universitas Washington.

Monday, April 27, 2020

Virus Corona Bisa Menyerang Organ Tubuh Yang Lain Selain Paru-paru


Kasir4D Sejak kemunculannya di akhir 2019, virus Corona COVID-19 diketahui menyerang organ paru-paru penderitanya. Tetapi, kini dokter telah menemukan efek virus ini pada beberapa organ tubuh lainnya.


Beberapa ahli kesehatan menganggap COVID-19 sebagai penyakit yang sulit untuk dikenali. Bahkan penyakit ini bisa menyebabkan berbagai gejala tak biasa, seperti diare, kehilangan indra penciuman dan perasa, nyeri otot, mata merah muda, hingga muncul ruam.

Tapi, bagaimana virus Corona bisa merusak organ tubuh lain?

Ketika virus Corona masuk ke tubuh melalui mulut, hidung, atau mata, virus ini langsung menargetkan reseptor yang disebut ACE2 yang ada di berbagai organ tubuh.



Virus itu menempel pada ACE2 dan menjadikan sel manusia untuk tempat berkembang hingga terjadi infeksi.

Mengutip Medical Daily, pada orang yang imunitasnya lemah, virus ini bisa masuk lebih jauh ke dalam tubuh. Ia akan mulai menyerang paru-paru, otot jantung, ginjal, pembuluh darah, hati, hingga ke sistem saraf pusat.

Hal itu membuat mereka yang lanjut usia dan memiliki penyakit akut seperti penyakit jantung, kerusakan ginjal dan sebagainya lebih rentan terserang virus.


Tak hanya organ dalam, organ luar seperti kulit pun juga terkena dampaknya sampai muncul ruam kemerahan.

Salah satu dokter kulit dari Texas, dr Sanober Amin, mengatakan beberapa pasien yang positif terinfeksi mengalami pembekuan pembuluh darah di dekat kulitnya.


Dokter menyebut keadaan ini dengan 'COVID jari kaki', karena sebagian besar penggumpalan darah terjadi di jari-jari kaki.

Sampai saat ini, para peneliti pun masih belum menemukan jawaban bagaimana virus ini bisa membuat perubahan besar pada tubuh. Togel Online


Mereka juga sedang menentukan secara jelas mana yang benar-benar disebabkan virusnya dan mana yang hanya terkait dengan kondisi tubuhnya.

Sunday, April 26, 2020

Virus Corona Akan Berakhir Pada Bulan Juni


Kasir4D Data dari Singapore University of Technology and Design (SUTD) mengungkap prediksi akhir dari wabah Corona di sejumlah negara. Indonesia sendiri diprediksi berakhir pada 6 Juni mendatang.
 

Data tersebut menggunakan artificial intelligence (AI) yang berbasis pada model matematika tipe susceptible-infected-recovered (SIR).

Model SIR ini diregresikan dengan data dari berbagai negara untuk memperkirakan kurva siklus hidup pandemi dan memperkirakan kapan pandemi tersebut akan berakhir di masing-masing negara dan dunia, dengan menghimpun data terbaru dari Our World in Data.


Menurut data yang dimuat pada Sabtu (25/4/2020), jika dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia akan lebih dulu mengakhiri wabah Corona yaitu pada 6 Mei.

Menyusul Singapura yang diprediksi berakhir pada 4 Juni.

Sementara itu pandemi Corona di dunia diprediksi akan berakhir 100 persen di akhir tahun. Tepatnya pada tanggal 8 Desember 2020. Togel Online

Meski begitu, data yang diungkap dalam laman web SUTD Data 'When Will Covid-19 End' ini ditujukan untuk mendukung penelitian. Disebutnya, sangat mungkin jika terdapat kesalahan.

Saturday, April 25, 2020

Pasien Corona Alami Silent Hypoxia, Kondisi Apa Itu?


Kasir4D Dokter di Amerika Serikat menemukan beberapa pasien Corona COVID-19 mengalami silent hypoxia, kondisi saat mereka kekurangan pasokan oksigen tanpa disadari.

Kondisi ini disebut menyebabkan sel dan jaringan tubuh terganggu dalam menjalankan fungsi normalnya dan bisa merusak beberapa organ tubuh.

dr Richard Levitan, seorang praktisi medis darurat di New York City menemukan pasien yang paru-parunya berisi cairan atau nanah tetapi tidak mengalami gangguan pernapasan sebelum tiba di rumah sakit.

https://bit.ly/kasir4d

Dalam wawancaranya bersama New York Times, dr Levitan menjelaskan pasien ini tak sadar bahwa mereka terinfeksi virus Corona dengan kondisi kritis karena kadar oksigen yang rendah dalam tubuh mereka terjadi tanpa adanya 'peringatan' atau masalah pernapasan yang dirasakan.

"Dan inilah yang benar-benar mengejutkan kami. Pasien-pasien ini tidak melaporkan sensasi masalah pernapasan, meskipun hasil rontgen dada mereka menunjukkan pneumonia dan oksigen mereka di bawah normal. Bagaimana mungkin?" kata dr Levitan, dikutip dari The Sun dan ditulis Sabtu (25/4/2020).

Menurut dr Levitan kondisi silent hypoxia terjadi tanpa disadari saat pasien sudah memasuk stadium lanjut. Mereka pun tak merasakan adanya sesak napas.

"Mereka memiliki kadar oksigen yang sangat rendah dan pneumonia sedang hingga berat (seperti yang terlihat pada rontgen dada)," kata dr Levitan. Togel Online

"Saturasi oksigen normal bagi kebanyakan orang di permukaan laut adalah 94 persen hingga 100 persen, pasien pneumonia COVID-19 yang saya lihat memiliki saturasi oksigen serendah 50 persen," ungkapnya.

Friday, April 24, 2020

Hasil Uji Obat Remdesivir Disebut Gagal Mengobati Pasien Corona


Kasir4D Sebelumnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah membuat daftar obat-obatan yang bisa dilakukan uji coba dalam pengobatan pasien virus Corona COVID-19, salah satunya adalah remdesivir.
 

Remdesivir disebut mempunyai potensi yang baik dalam pengobatan pasien virus Corona. Bahkan ini adalah salah satu obat yang diklaim Donald Trump 'menjanjikan'.

Sayangnya remdesivir dikabarkan tidak memberikan hasil baik. Sebanyak 237 pasien yang menjalani uji coba pengobatan remdesivir tak mendapat manfaat seperti yang selama ini diharapkan. Bahkan percobaan ini juga dihentikan lebih awal karena adanya efek samping.

The Guardian menyebutkan berita mengenai gagalnya uji coba obat ini telah diunggah pada database uji klinis WHO, tetapi kemudian dihapus.


Seorang juru bicara WHO mengatakan dokumen tersebut diunggah terlalu dini karena faktor ketidaksengajaan.

"Draf dokumen diberikan oleh penulis WHO dan secara tidak sengaja di posting di situs web dan dihapus segera setelah kesalahan diketahui.


https://bit.ly/kasir4d

Naskah sedang dalam peninjauan dan kami menunggu versi final sebelum WHO memberikan komentar," kata seorang juru bicara WHO, Tarik Jasarevic.

Remdesivir merupakan obat hasil racikan perusahaan bioteknologi asal Amerika Serikat (AS), Gilead Sciences.

Beberapa dokter di China juga akhirnya menghentikan uji coba remdesivir pada pasien virus Corona bergejala berat.


Namun pihak Gilead tetap mengklaim bahwa obat buatannya masih bisa berguna pada pasien yang memiliki gejala rendah.

Dalam percobaan tersebut, 237 pasien dibagi menjadi dua kelompok yaitu 158 orang diberikan remdesivir, sementara 79 lainnya hanya mendapatkan perawatan standar. 


Hasilnya tidak ada perbedaan antara kedua kelompok pasien tersebut dalam waktu pemulihan.

"Dalam penelitian ini pada pasien dewasa yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19 bergejala parah dihentikan sebelum waktunya, remdesivir tidak dikaitkan dengan manfaat klinis atau virologi," tulis laporan tersebut. Togel Online

"Remdesivir dihentikan lebih awal pada 18 (11,6 persen) pasien karena efek samping, dibandingkan dengan 4 (5,1 persen) pada kelompok kontrol," lanjutnya.

Wednesday, April 22, 2020

Apa Benar Virus Corona Juga Bisa Menyerang Pembuluh Darah


Kasir4D Para peneliti dari Universitas Hospital Zurich menyatakan bahwa virus Corona COVID-19 dapat menyerang lapisan pembuluh darah di seluruh tubuh.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet ini menyebut dampak penyerangan lapisan pembuluh darah dapat mengakibatkan kegagalan banyak organ tubuh.
 

"Virus ini tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga menyerang pembuluh darah di banyak organ tubuh," kata Frank Ruschitzka, peneliti dari Universitas Hospital Zurich, seperti dilansir South China Morning Post.
 
https://bit.ly/kasir4d

 
Frank menjelaskan virus Corona dapat menyebabkan komplikasi lebih dari pneumonia. Alasannya karena virus ini memasuki lapisan sel (endotelium) di dalam pembuluh darah.

Virus akan menurunkan kekebalan tubuh yang dapat menyebabkan masalah dalam sirkulasi mikro. Nantinya, akan mengurangi aliran darah ke berbagai tubuh yang dapat menghentikan sirkulasi darah.

"Dari apa yang kita lihat secara klinis, pasien memiliki masalah di banyak organ di antaranya jantung, ginjal, hingga usus," lanjut Frank.

Itu sebabnya perokok dan orang dengan kondisi penyakit penyerta atau komorbid, seperti hipertensi, diabetes, obesitas, dan penyakit kardiovaskular dengan fungsi endotel yang lemah atau pembuluh darah yang tidak sehat lebih rentan terhadap virus Corona.

Penelitian ini melakukan autopsi ke tiga pasien meninggal yang dinyatakan positif virus Corona. Togel Online


Hasilnya ditemukan banyak virus Corona di dalam pembuluh darah ketiganya yang menyebabkan fungsi pembuluh darah mereka terganggu di semua organ.

"Semua pasien yang berisiko terutama lansia harus diperlakukan dengan sangat baik untuk kondisi kardiovaskular yang mendasarinya. Semakin baik mereka dirawat, semakin besar kemungkinan mereka selamat dari infeksi COVID-19, " pungkasnya.

Tuesday, April 21, 2020

Strategi Beberapa Negara Mencegah Penyebaran Virus Corona


Kasir4D Sejak mewabahnya pandemivirus Corona COVID-19, kehidupan sehari-hari masyarakat di dunia berubah. Banyak negara yang menerapkan kebijakan social distancing hingga lockdown untuk mencegah penyebaran virus Corona.

Setiap negara mempunyai strategi yang berbeda untuk menghadapi virus Corona. Mengutip CNN, berikut beberapa strategi yang dilakukan negara-negara di dunia untuk mencegah penyebaran virus Corona:

Kartu imunitas
Pemerintah Chili akan mengeluarkan kartu imunitas digital yang disebut 'kartu COVID'. Nantinya, kartu ini akan diberikan untuk orang yang telah sembuh setelah dinyatakan positif dan dikarantina selama 14 hari.


Sebelumnya, Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock telah mengeluarkan ide serupa dengan penerbitan sertifikat kekebalan yang dinamai paspor imunitas. Masyarakat yang telah sembuh dari virus Corona akan diberikan paspor imunitas sehingga dapat kembali beraktivitas normal.

Lockdown akhir pekan
Masyarakat Turki setiap akhir pekan tidak diizinkan keluar rumah. Kebijakan ini diberlakukan di 31 provinsi negara tersebut. Pada hari biasa pemerintah masih mengizinkan warganya untuk keluar meskipun banyak toko dan tempat umum tutup.

Batasan khusus usia
Selain melarang warganya keluar di akhir pekan, pemerintah Turki juga menerapkan batasan usia. Hanya orang yang berusia antara 20-65 tahun yang diizinkan keluar rumah pada hari biasa.

Sementara itu di Swedia masyarakat yang berusia di atas 70 tahun tidak diperbolehkan untuk keluar rumah.

Penelitian Warwick University dari Inggris mengusulkan orang yang berusia 20-30 tahun dibebaskan untuk keluar rumah. Namun dengan catatan, tidak tinggal bersama orang tua.

Lockdown berbasis gender
Pada 2 April lalu Presiden Peru Martin Vizcarra mengumumkan lockdown berbasis gender. Senin, Rabu, dan Jumat hanya pria yang diperbolehkan keluar rumah. Sementara Selasa, Kamis, dan Sabtu hanya wanita yang diizinkan. Sedangkan Minggu, pemerintah Peru melarang semua warganya untuk keluar rumah.Togel Online

Panama juga melakukan hal yang serupa dengan mengadopsi kebijakan lockdown berbasis gender. Kebijakan ini diambil untuk menekan jumlah orang yang keluar rumah guna menghindari penyebaran virus Corona yang semakin meluas.

Penggunaan drone
Otoritas Penerbangan Sipil Nasional Italia (ENAC) menggunakan pesawat tanpa awak atau drone untuk membantu memantau pergerakan warganya di tempat umum. Sementara itu, Departemen Pertahanan Australia bekerja sama dengan Universitas Australia Selatan menggunakan drone untuk membantu memonitor suhu, detak jantung, pernapasan, dan mendeteksi orang yang bersin dan batuk di tengah kerumunan.

Sedangkan China dan Kuwait menggunakan drone yang dapat berbicara untuk memerintahkan warganya untuk kembali ke rumah.

Monday, April 20, 2020

Apakah Benar Jika Suhu Tinggi Belum Bisa Membunuh Virus Corona


Kasir4D Seorang peneliti di China sempat menyatakan bahwa virus Corona COVID-19 sangat sensitif terhadap suhu tinggi, hingga mencegahnya berkembang.

Namun, penelitian lainnya mendapatkan hasil lain dan mengatakan harapan itu terlalu optimistis.
 

Para peneliti dari Universitas Aix-Marseille, Prancis, mengatakan bahwa virus ini masih bisa bertahan hidup pada suhu tinggi.

Untuk membuktikan hal ini, mereka sengaja menginfeksi sel ginjal pada monyet hijau Afrika dengan virus Corona.

https://bit.ly/kasir4d

Kemudian, sel tersebut ditempatkan di suhu ruangan 60 derajat Celcius. Tetapi, hasilnya sel ginjal itu tetap saja terinfeksi virus Corona.

Namun, penelitian itu menunjukkan hasil sementara bahwa berada di lingkungan luar saat siang hari mungkin bisa membuat risiko penularan menurun. Togel Online


Meskipun begitu, tidak ada virus yang terdeteksi mati dalam kurun waktu 60 menit.

Di sisi lain, seorang ilmuwan komputasi di MIT, Qasim Bukhari dan rekan penulis analisis lainnya mengatakan memang ada keterkaitan antara cuaca dengan virus.


Tapi, hal itu belum sepenuhnya dipahami dan bisa dibuktikan oleh mereka.

"Kami tidak mengatakan bahwa virus akan hilang saat terkena suhu yang tinggi.


Kami hanya melihat ada ketergantungan suhu dan kelembaban, tapi saya pikir sudah banyak orang yang mulai memahami ini," ujarnya yang dikutip dari Daily Star.

Sunday, April 19, 2020

13 Gejala Virus Corona Yang Tidak Pernah Terpikirkan


Kasir4D Saluran pernapasan merupakan organ yang paling terkena dampak fatal saat seseorang terinfeksi virus Corona COVID-19. Gejala yang timbul biasanya sesak napas, demam, hingga paling parah pneumonia.

Tetapi, dampak yang terjadi pada tubuh tidak hanya pada bagian itu saja. Ada banyak sekali dampak lain yang bahkan tidak pernah terpikir sebelumnya.

Semakin banyaknya variasi gejala yang terjadi pada pasien virus Corona, detikcom merangkumnya sebagai berikut.

Baca juga: Tidak Batuk Tapi Testis Terasa Nyeri, Tak Tahunya Mengidap Virus Corona
1. Diare
Sebuah penelitian mengungkapkan ternyata diare juga banyak dikeluhkan oleh pasien corona. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan terhadap 204 pasien di Wuhan.

Sekitar 99 pasien atau 48,5 persen yang masuk ke rumah sakit mengeluh dengan masalah pencernaan. Padahal mereka sebelumnya tidak memiliki riwayat sakit perut apapun.

Riset ini mengungkap, pasien COVID-19 dengan masalah pencernaan cenderung lebih lama mencari pertolongan ke rumah sakit. Mengutip CBSnews, rata-rata butuh waktu 9 hari untuk datang ke rumah sakit.

2. Kehilangan kemampuan penciuman dan perasa
Para ilmuwan di King's College London mengatakan gejala yang paling akurat untuk mengidentifikasi pasien COVID-19, yaitu kehilangan indra penciuman dan perasa. Sekitar 59 persen pasien yang dinyatakan positif COVID-19 mengalami itu.

Gejala ini disebut lebih akurat untuk mendiagnosis COVID-19 dibandingkan dengan gejala demam seperti yang selama ini dilaporkan. Biasanya ini terjadi di saat tahap awal penyakit.

"Orang-orang dengan gejala kehilangan fungsi indra penciuman dan perasa ini tiga kali lebih mungkin membuktikan bahwa ia terinfeksi COVID-19. Jika itu terjadi, kami menyarankan mereka untuk mengisolasi diri guna mengurangi penyebaran penyakit," kata peneliti utama Profesor Tim Spector dari King's College.

3. Mata merah
American Academy of Opthalmology memberikan peringatan pada semua petugas tenaga medis, bahwa virus corona dapat menyebabkan konjungtivitis. Ini menyebabkan mata dan sekitarnya menjadi merah.

Kondisi ini telah dialami oleh seorang perawat asal Amerika Serikat, Chesley Earnest saat menangani pasien virus corona. Ia mengatakan, hampir semua pasien yang bergejala berat itu matanya memerah.

Menurut jurnal dari JAMA Ophthalmology, sebanyak 12 dari 38 pasien memiliki gejala yang terkait dengan konjungtivitis, seperti hiperemia konjungtiva (peningkatan pembuluh darah pada mata), kemosis (kelopak mata membesar), epifora (mata berair), atau peningkatan sekresi. Gejala ini lebih sering dialami oleh pasien COVID-19 yang lebih parah. Kemungkinan bisa ditularkan dari air mata.

4. Gangguan saraf
Ternyata penyakit saraf juga bisa menjadi satu gejala COVID-19. Ahli menyebut ada kemungkinan virus corona tersebut bisa menyerang otak. Hal ini dialami pasien berusia 74 tahun dari Amerika Serikat yang kehilangan kemampuan bicaranya setelah mengeluh demam dan batuk.

Gejala penyakit saraf yang pernah dilaporkan pasien, di antaranya kejang, kebingungan, pusing, sakit kepala, mengigau, kebas, hingga stroke. Studi yang dipublikasi dalam British Medical Journal (BMJ) pada 26 Maret 2020 menyebut sekitar 22 persen dari 113 pasien positif corona yang meninggal di Wuhan mengalami gejala gangguan saraf.

Ada teori lain yang menyebut bahwa kemungkinan gejala penyakit saraf muncul karena adanya penurunan fungsi paru-paru, dan berdampak pada kekurangan oksigen ke otak.

 
https://bit.ly/kasir4d


5. Nyeri otot
Para ahli mengungkapkan bahwa nyeri otot bisa menjadi tanda dari virus Corona COVID-19 yang serius. Ahli penyakit menular, Megan Coffee, mengatakan nyeri otot dalam yang dikenal sebagai mialgia sering terlihat pada pasien COVID-19.

Berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gejala nyeri otot tersebut terjadi pada 15 persen pasien virus corona. Dikutip dari The Sun, nyeri ini disebabkan oleh bahan kimia yang disebut sitokin yang dilepaskan ke dalam tubuh sebagai respon terhadap infeksi.

6. Nyeri pada testis
Seorang pria dinyatakan positif COVID-19, tapi tidak mengalami gejala umum seperti batuk dan sesak napas. Namun, ia merasakan nyeri di bagian testisnya.

Setelah pemeriksaan X-ray dokter mengatakan testisnya dalam keadaan normal. Saat melakukan CT Scan, dokter menyatakan bahwa dirinya mengalami pneumonia hingga akhirnya dinyatakan positif terinfeksi virus Corona.

Dikutip dari Daily Mail, para dokter di Harvard Medical School tidak mengatakan bahwa nyeri testis adalah salah satu gejala virus Corona, tetapi mengingatkan adanya gejala 'atipikal' dari COVID-19.


7. Muncul ruam pada kulit dan gatal-gatal
Para ahli kulit dari Perancis percaya bahwa ruam dan gatal tanpa sebab yang terjadi pada kulit, bisa jadi gejala infeksi virus Corona. Hal ini dialami oleh beberapa pasien COVID-19 yang ada di negara tersebut dan mengalami rasa gatal.

Gejala yang muncul pada kulit terlihat bintik-bintik merah yang mirip dengan bekas radang dingin. Akhirnya lebih dari 400 dokter kulit dari Uni Nasional Perancis Dermatologis-Venereologis (SNDV) mendesak dokter untuk memeriksa pasien yang memiliki gejala tersebut.

Selain itu, dikutip dari Mirror, Direktur Penyakit Infeksi di ProHealth Care Associates Amerika Serikat, Daniel Griffin mengatakan bahwa rasa seperti terbakar di kulit juga mungkin disebabkan virus Corona. Ia mengatakan, sensasi terbakar ini bisa terjadi karena respon imun terhadap sistem saraf penderitanya.

8. Lebih sering kencing dan diare
Gejala lain yang juga dilaporkan terkait COVID-19 adalah intensitas buang air kecil lebih tinggi dari biasanya dan diare. Ahli kesehatan Dr Diana Gall mengatakan hal ini mungkin jadi gejalanya.

"Masalah pencernaan seperti kebiasaan buang air kecil atau besar lebih sering memang bisa jadi tanda penyakit lain. Tapi, diare sendiri sudah dilaporkan sebagai gejala awal pasien positif COVID-19," ujarnya yang dikutip dari The Sun.

Menurut studi yang diterbitkan oleh American Journal Gastroenterology, setelah menganalisis 204 pasien COVID-19 di Hubei, China, menemukan bahwa hampir 50 persennya mengalami diare, muntah, atau nyeri pada perut di awal gejala.

9. Kabut otak
Beberapa orang yang positif COVID-19 juga mengalami gejala kabut otak atau kelelahan mental. Meskipun belum dipastikan secara resmi, tapi hal ini dialami oleh beberapa pasien COVID-19, salah satunya Thea Jourdan.

Mengutip dari The Sun, ia mengalami kabut otak yang diawali dengan merasa lelah yang hanya ingin tetap di tempat tidur. Ia tidak batuk dan demam, tapi ia merasakan sensasi seperti menghirup bedak di paru-paru.

"Aku juga punya kabut otak. Aku bahkan tidak bisa mengisi formulir dari sekolah anak-anakku. Aku hanya ingin tidur," jelasnnya. Togel Online

10. Kelelahan ekstrem
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa hampir 40 persen dari 60 ribu pasien positif virus Corona mengalami kelelahan yang ekstrem di awal gejala. Dikutip dari CNN, rasa lelah yang ekstrim ini bisa berlanjut sampai virus itu hilang dari tubuh.

Beberapa orang yang sudah pulih dari virus Corona COVID-19 mengatakan, bahwa rasa lelah yang ekstrim terus berlanjut. Bahkan selama masa pemulihan pun masih terasa.


11. Kulit seperti 'tersetrum'
Gejala lain yang tak biasa saat seseorang terinfeksi virus Corona adalah kulit seperti 'tersetrum'. Dikutip dari New York Post, Kepala Perawatan Penyakit Menular di ProHealth Care Associates, Dr Daniel Griffin mengatakan kondisi ini bukanlah gejala umum, melainkan reaksi antibodi.

"Jelas sudah diidentifikasi, tetapi kami belum yakin dan mungkin ada beberapa alasan itu terjadi. Perasaan itu mungkin hasil dari antibodi yang melawan penyakit dan mengganggu cara kerja saraf," kata Griffin.

Selain itu, Direktur Klinis di layanan kesehatan Pack Health, Dr Vipul Shah, sensasi itu bisa juga dikaitkan dengan kebiasaan demam pada seseorang. Shah mengatakan, saat orang tidak terbiasa demam, kulit mereka terasa seperti tersetrum.

12. Luka di kaki
Gejala munculnya lesi atau luka di kaki juga dicurigai menjadi salah satu gejala virus Corona. Hal ini dilaporkan para ilmuwan yang mirip campak dan cacar ini.

"Luka ungu, sangat mirip campak dan cacar air, yang biasanya muncul di jari kaki dan normalnya sembuh tanpa berbekas," tulis para ahli dalam sebuah pernyataan, dikutip dari news.com.au.

Hal ini berkaitan dengan kasus pemuda yang terinfeksi virus Corona yang sebelumnya menemukan luka pada kakinya, yang tadinya diyakini sebagai luka gigitan.

13. Gejala neurologis
Gejala neurologis ini diungkapkan sebagai gejala ringan baru oleh para ahli dari Universitas Sains dan Teknologi Huazhong di Wuhan, China. Dari penelitian yang melibatkan 214 pasien, 36 persen di antaranya mengalami gejala neurologis, seperti sakit kepala, pusing, peradangan otak, dan nyeri saraf.

"Beberapa pasien tanpa gejala khas (demam, batuk, anoreksia, dan diare) COVID-19 datang ke rumah sakit dengan hanya manifestasi neurologis sebagai gejala," demikian laporan para peneliti yang dipimpin oleh Ling Mao.

Saturday, April 18, 2020

Cara Ini Lebih Akurat Deteksi Virus Corona


Kasir4D Para ahli di Amerika Serikat (AS) berpendapat bahwa CT scan bisa jadi metode yang paling baik untuk deteksi dini virus Corona COVID-19 daripada tes swab. Cara ini juga yang digunakan secara luas oleh para ilmuwan di China.
 

"CT scan adalah alat diagnostik yang sangat akurat karena bisa melihat organ bagian dalam secara tiga dimensi. Dan di situ bisa melihat tanda atau gejala dari banyak penyakit," kata pemimpin penelitian dari sistem kesehatan di Mount Sinai Hospital, New York, Dr Adam Bernheim.

Dikutip dari The Sun, Dr Bernheim mengatakan bahwa CT scan bisa mengidentifikasi pola-pola spesifik yang berada di paru-paru. Hal itu sebagai penanda saat virus sudah berkembang lebih dari dua minggu.


Menurut para ahli, hasil dari tes swab dinilai kurang akurat. Dalam penelitiannya mereka menemukan bahwa 48 persen pasien yang di tes swab yang hasilnya negatif, sebenarnya terinfeksi dan positif.

Metode CT scan disebut bisa mengidentifikasi bintik-bintik putih yang kabur, bercak-bercak, sehingga dianggap bisa jadi metode pengujian rutin untuk mengurangi risiko gelombang kedua virus Corona.


Bahkan, metode ini diklaim bisa dengan cepat mendiagnosis COVID-19 meskipun gejalanya belum muncul.

Hanya saja ada kekhawatiran bahwa pasien yang terinfeksi bisa mencemari mesin serta udara yang ada di dalam ruangan pengujian. Terlebih jika pemeriksaan dilakukan selama sekitar satu jam, bisa saja virus tersebut menginfeksi pasien lain.

Pendapat lain juga diungkapkan dokter umum dan direktur klinis dari Patientaccess, Dr Sarah Jarvis. 

Ia mengatakan hasil tes swab tidak akan salah, jika sampel dan prosedurnya dilakukan dengan benar. Ia khawatir, jika menggunakan metode CT scan, pasien bisa saja terkena radiasi meskipun dosisnya rendah. Togel Online

"Terlepas dari ketersediaan alat, metode CT scan bisa saja membuat pasien terkena radiasi dosis rendah. Selain itu, tidak bisa membedakan antara COVID-19, SARS, MERS, virus pneumonia, hingga influenza," jelasnya.

Friday, April 17, 2020

Apakah Benar Sinar Ultraviolet Bisa Cegah Penyebaran Virus Corona


Kasir4D Seorang peneliti sekaligus direktur Pusat Penelitian Radiologi di Universitas Columbia, David Brenner mengatakan bahwa jenis cahaya tertentu bisa membunuh virus di udara. Beberapa virus yang dimaksud salah satunya adalah virus Corona.
 

Brenner telah mempelajari bahwa sinar ultraviolet atau sinar UV berpotensi untuk melawan penyebaran virus.

Sinar UV ini dikenal karena sifatnya yang bisa membunuh kuman dan digunakan untuk mensterilkan peralatan, hingga area rumah sakit.


"Paparan sinar ini khususnya UVC aman untuk manusia, karena tidak bisa melewati sel-sel hidup di tubuh kita," katanya yang dikutip dari ABC News.

"Setelah menjalankan beberapa tes tambahan terhadap UVC atau sinar jauh, kami melihat bahwa dalam dosis yang rendah saja bisa membunuh 99 persen virus," lanjut Brenner.

Tim Brenner sebelumnya telah menguji UVC ini terhadap dua virus Corona musiman, dan saat ini sedang mengujinya dengan virus COVID-19 yaitu SARS-CoV-2.


Lampu yang menggunakan sinar UVC juga sedang diproduksi dan menunggu persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA).

Meski masih menunggu persetujuan dan perizinan dari FDA, permintaan masyarakat terhadap lampu tersebut sangat tinggi. Togel Online


Hal ini membuat perusahaan yang memproduksinya, Cy Herring, harus bekerja sepanjang waktu.

Wednesday, April 15, 2020

Istilah Lain Buat Penderita Virus Corona Yang Sudah Sembuh, Dinyatakan Terjangkit Kembali


Kasir4D Belakangan ini terdapat beberapa pasien di berbagai negara yang mengalami kembali positif virus Corona COVID-19, meski sebelumnya dinyatakan sembuh. Beberapa ahli mengatakan hal ini bisa terjadi karena adanya dua faktor yaitu reinfeksi atau reaktivasi.

Reinfeksi merupakan terpaparnya kembali pasien yang sudah sembuh sehingga menyebabkan sakit.

Sedangkan reaktivasi adalah masih adanya virus dalam tubuh pasien yang tidak terdeteksi dan kembali aktif.

Lantas kemungkinan mana yang bisa terjadi pada pasien yang mengalami positif virus Corona untuk yang kedua kalinya?

Menurut Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME), Prof Amin Soebandrio, kemungkinan keduanya bisa terjadi, meski hasil tes pada pasien telah menunjukkan negatif dalam waktu dua kali berturut-turut.

 
"Diketahui virusnya itu bisa hidup tidak hanya di saluran napas, tetapi bisa juga di saluran feses dan urine walaupun jumlah frekuensinya jauh lebih rendah dibandingkan di saluran napas," kata Prof Amin kepada detikcom, Rabu (15/4/2020).

"Jadi kemungkinan reaktivasi itu masih mungkin terjadi," lanjutnya.

Sementara itu, Prof Amin juga menjelaskan pasien yang sudah sembuh tetap bisa mengalami reinfeksi, walaupun sistem kekebalan tubuhnya sudah lebih baik dari sebelumnya.

"Setelah sembuh kan dia baru keluar dari satu fasilitas yang ada virusnya dan mungkin di tubuhnya sudah tidak temukan, tapi di lingkungan itu kan masih ada. Jadi ada kemungkinan ada paparan terakhir saat dia keluar," jelasnya. Togel Online

Karena itu Prof Amin mengatakan pentingnya karantina mandiri selama dua minggu tetap dilakukan pada pasien yang sudah sembuh untuk menghindari hal-hal seperti ini terjadi.

"Pasien yang dinyatakan sembuh walaupun sudah negatif tetap harus diminta karantina mandiri selama minimum dua minggu," tuturnya.

Tuesday, April 14, 2020

Selain Demam dan Batuk, Kenali Juga 5 Gejala Lain Dari Virus Corona


Kasir4D Pandemi Corona kini sudah memasuki bulan ke-4 sejak muncul pada akhir Desember 2019 lalu. Berbagai penelitian pun dilakukan untuk menguak segala hal yang berkaitan dengan virus Corona COVID-19 ini.

Mulai dari faktor risiko, gejala yang muncul, obat, vaksin, dan hal lain yang ada kaitannya antara manusia dengan COVID-19 ini.

Seperti yang diketahui sebelumnya, ada berbagai gejala yang bisa menunjukkan seseorang terinfeksi virus tersebut, mulai dari demam, batuk, sesak napas, kehilangan kemampuan penciuman dan perasa, hingga gangguan saraf.

Tapi, ada pun gejala baru lain yang ternyata juga mengarah pada COVID-19. Berikut detikcom rangkum gejala baru yang tidak biasa dari berbagai sumber.

1. Nyeri pada testis
Seorang pria dinyatakan positif COVID-19, tapi tidak mengalami gejala umum seperti batuk dan sesak napas. Namun, ia merasakan nyeri di bagian testisnya.

Setelah pemeriksaan X-ray dokter mengatakan testisnya dalam keadaan normal. Saat melakukan CT Scan, dokter menyatakan bahwa dirinya mengalami pneumonia hingga akhirnya dinyatakan positif terinfeksi virus Corona.

Dikutip dari Daily Mail, para dokter di Harvard Medical School tidak mengatakan bahwa nyeri testis adalah salah satu gejala virus Corona, tetapi mengingatkan adanya gejala 'atipikal' dari COVID-19.

2. Muncul ruam pada kulit dan gatal-gatal
Para ahli kulit dari Perancis percaya bahwa ruam dan gatal tanpa sebab yang terjadi pada kulit, bisa jadi gejala infeksi virus Corona. Hal ini dialami oleh beberapa pasien COVID-19 yang ada di negara tersebut dan mengalami rasa gatal.

https://bit.ly/kasir4d

Gejala yang muncul pada kulit terlihat bintik-bintik merah yang mirip dengan bekas radang dingin. Akhirnya lebih dari 400 dokter kulit dari Uni Nasional Perancis Dermatologis-Venereologis (SNDV) mendesak dokter untuk memeriksa pasien yang memiliki gejala tersebut.

Selain itu, dikutip dari Mirror, Direktur Penyakit Infeksi di ProHealth Care Associates Amerika Serikat, Daniel Griffin mengatakan bahwa rasa seperti terbakar di kulit juga mungkin disebabkan virus Corona. Ia mengatakan, sensasi terbakar ini bisa terjadi karena respon imun terhadap sistem saraf penderitanya.

3. Lebih sering kencing dan diare
Gejala lain yang juga dilaporkan terkait COVID-19 adalah intensitas buang air kecil lebih tinggi dari biasanya dan diare. Ahli kesehatan Dr Diana Gall mengatakan hal ini mungkin jadi gejalanya.

"Masalah pencernaan seperti kebiasaan buang air keci atau besar lebih sering memang bisa jadi tanda penyakit lain. Tapi, diare sendiri sudah dilaporkan sebagai gejala awal pasien positif COVID-19," ujarnya yang dikutip dari The Sun.

Menurut studi yang diterbitkan oleh American Journal Gastroenterology, setelah menganalisis 204 pasien COVID-19 di Hubei, China, menemukan bahwa hampir 50 persennya mengalami diare, muntah, atau nyeri pada perut di awal gejala.

4. Kabut otak
Beberapa orang yang positif COVID-19 juga mengalami gejala kabut otak atau kelelahan mental. Meskipun belum dipastikan secara resmi, tapi hal ini dialami oleh beberapa pasien COVID-19, salah satunya Thea Jourdan.

Mengutip dari The Sun, ia mengalami kabut otak yang diawali dengan merasa lelah yang hanya ingin tetap di tempat tidur. Ia tidak batuk dan demam, tapi ia merasakan sensasi seperti mengirup bedak di paru-paru.

"Aku juga punya kabut otak. Aku bahkan tidak bisa mengisi formulir dari sekolah anak-anakku. Aku hanya ingin tidur," jelasnnya. Togel Online

5. Kelelahan ekstrim
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa hampir 40 persen dari 60 ribu pasien positif virus Corona mengalami kelelahan yang ekstrim di awal gejala. Dikutip dari CNN, rasa lelah yang ekstrim ini bisa berlanjut sampai virus itu hilang dari tubuh.

Beberapa orang yang sudah pulih dari virus Corona COVID-19 mengatakan, bahwa rasa lelah yang ekstrim terus berlanjut. Bahkan selama masa pemulihan pun masih terasa.

Monday, April 13, 2020

3 sampai 70 Vaksin Virus Corona Siap Diuji Pada Manusia


Kasir4D Sebanyak 70 vaksin untuk virus Corona COVID-19 sudah masuk ke dalam tahapan pengembangan secara global.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tiga vaksin di antaranya sedang diuji coba pada manusia. Togel Online

Salah satu vasksin yang sudah masuk tahapan kedua uji klinis yaitu vaksin eksperimental yang dikembangkan oleh CanSino Biological Inc.

Perusahaan ini sudah terdaftar di Hong Kong dan Institut Bioteknologi Beijing.

Dua lainnya yang sedang diuji pada manusia itu dikembangkan secara terpisah oleh produsen obat asal Amerika Serikat, Moderna Inc dan Inovio Pharmaceuticals.



Proses ini berjalan cepat dan berharap segera terselesaikan.

Selain tiga perusahaan tersebut, dua perusahaan farmasi raksasa juga ikut mengembangkan vaksin kandidat untuk COVID-19. Dua perusahaan tersebut yaitu Pfizer dan Sanofi.

Pada bulan lalu, CanSino telah mendapat persetujuan dari pemerintah China untuk mulai melakukan uji coba pada manusia.


Sementara itu, Moderna yang berbasis di Cambridge, Massachusetts, juga sudah memulai uji coba pada Maret lalu setelah CanSino.

Mengutip dari Times Of India, kandidat lainnya yaitu Inovio, baru memulai melakukan uji coba pada manusia pada minggu lalu.

Sunday, April 12, 2020

5 Gejala Tak Khas Virus Corona Yang Patut Diperhatikan


Kasir4D Virus Corona COVID-19 umumnya memiliki gejala seperti demam yang tinggi, batuk, hingga sesak napas. Gejala tersebut yang paling sering ditemui pada pasien Corona.
Namun adapula gejala-gejala yang tak khas. Berikut lima gejala tak khas virus Corona COVID-19

1. Diare
Sebuah penelitian mengungkapkan ternyata diare juga banyak dikeluhkan oleh pasien corona. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan terhadap 204 pasien di Wuhan.

99 pasien atau 48,5 persen yang masuk ke rumah sakit mengeluh dengan masalah pencernaan. Padahal mereka sebelumnya tidak memiliki riwayat sakit perut apapun.

Riset ini mengungkap, pasien COVID-19 dengan masalah pencernaan cenderung lebih lama mencari pertolongan ke rumah sakit. Mengutip CBSnews, rata-rata butuh waktu 9 hari untuk datang ke rumah sakit. Togel Online

2. Kehilangan kemampuan penciuman dan perasa
Para ilmuwan di King's College London mengatakan gejala yang paling akurat untuk mengidentifikasi pasien COVID-19, yaitu kehilangan indra penciuman dan perasa. Sekitar 59 persen pasien yang dinyatakan positif COVID-19 mengalami itu.

Gejala ini disebut lebih akurat untuk mendiagnosis COVID-19 dibandingkan dengan gejala demam seperti yang selama ini dilaporkan. Biasanya ini terjadi di saat tahap awal penyakit.

https://bit.ly/kasir4d

"Orang-orang dengan gejala kehilangan fungsi indra penciuman dan perasa ini tiga kali lebih mungkin membuktikan bahwa ia terinfeksi COVID-19. Jika itu terjadi, kami menyarankan mereka untuk mengisolasi diri guna mengurangi penyebaran penyakit," kata peneliti utama Profesor Tim Spector dari King's College.

3. Mata merah
American Academy of Opthalmology memberikan peringatan pada semua petugas tenaga medis, bahwa virus corona dapat menyebabkan konjungtivitis. Ini menyebabkan mata dan sekitarnya menjadi merah.

Kondisi ini telah dialami oleh seorang perawat asal Amerika Serikat, Chesley Earnest saat menangani pasien virus corona. Ia mengatakan, hampir semua pasien yang bergejala berat itu matanya memerah.

Menurut jurnal dari JAMA Ophthalmology, sebanyak 12 dari 38 pasien memiliki gejala yang terkait dengan konjungtivitis, seperti hiperemia konjungtiva (peningkatan pembuluh darah pada mata), kemosis (kelopak mata membesar), epifora (mata berair), atau peningkatan sekresi.

Gejala ini lebih sering dialami oleh pasien COVID-19 yang lebih parah. Kemungkinan bisa ditularkan dari air mata.

4. Saraf
Ternyata penyakit saraf juga bisa menjadi satu gejala COVID-19. Ahli menyebut ada kemungkinan virus corona tersebut bisa menyerang otak. Hal ini dialami pasien berusia 74 tahun dari Amerika Serikat yang kehilangan kemampuan bicaranya setelah mengeluh demam dan batuk.

Gejala penyakit saraf yang pernah dilaporkan pasien, di antaranya kejang, kebingungan, pusing, sakit kepala, mengigau, kebas, hingga stroke. Studi yang dipublikasi dalam British Medical Journal (BMJ) pada 26 Maret 2020 menyebut sekitar 22 persen dari 113 pasien positif corona yang meninggal di Wuhan mengalami gejala gangguan saraf.

Ada teori lain yang menyebut bahwa kemungkinan gejala penyakit saraf muncul karena adanya penurunan fungsi paru-paru, dan berdampak pada kekurangan oksigen ke otak.

5. Nyeri otot
Para ahli mengungkapkan bahwa nyeri otot bisa menjadi tanda dari virus corona COVID-19 yang serius. Ahli penyakit menular, Megan Coffee, mengatakan nyeri otot dalam yang dikenal sebagai mialgia sering terlihat pada pasien COVID-19.

Berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gejala nyeri otot tersebut terjadi pada 15 persen pasien virus corona. Dikutip dari The Sun, nyeri ini disebabkan oleh bahan kimia yang disebut sitokin yang dilepaskan ke dalam tubuh sebagai respon terhadap infeksi.

Saturday, April 11, 2020

Potensi Bahaya Obat Klorokuin Buat Virus Corona


Kasir4D Klorokuin, hidroksi klorokuin, dan azithromycin telah digunakan untuk mengobati virus Corona COVID-19.

Meski belum ada bukti yang pasti terhadap keefektivitasan dan kelemahannya, dokter tetap harus waspada kemungkinan efek samping serius dari obat-obatan tersebut. Togel Online

Sebuah ulasan yang dilakukan oleh Canadian Medical Association Journey, menuliskan beberapa potensi berbahaya dari obat-obatan yang digunakan untuk menyembuhkan virus Corona.

"Dokter dan pasien harus mewaspadai beberapa efek samping yang jarang tetapi berpotensi mengancam jiwa dari klorokuin dan hidroksi klorokuin," kata Dr. David Juurlink, Divisi Farmakologi dan Toksikologi Klinis, Pusat Ilmu Kesehatan Sunnybrook, dan ilmuwan senior, dikutip dari Science Daily.

https://bit.ly/kasir4d

Ulasan yang dipublikasikan dalam jurnal Safety Considerations with Chloroquine, Hydroxychloroquine and Azithromycin in The Management of SARS-CoV-2 Infection pada 8 April lalu memberikan tinjauan umum tentang bahaya yang terkait dengan obat tersebut berdasarkan bukti-bukti yang dihimpun.

Efek samping potensial meliputi:

- Aritmia jantung
- Hipoglikemia
- Efek neuropsikiatri seperti agitasi, kebingungan, halusinasi dan paranoia
- Variabilitas metabolik
- Overdosis yang menyebabkan kejang, koma, dan henti jantung
- Kekurangan obat bagi pasien gangguan autoimun seperti rheumatoid arthritis dan lupus

Studi tersebut juga merangkum rendahnya bukti yang menunjukkan bahwa perawatan dengan obat-obatan di atas bermanfaat bagi pasien COVID-19 dan memperingatkan adanya kemungkinan pemberian obat dapat memperburuk penyakit.

"Inilah sebabnya kita membutuhkan basis bukti yang lebih luas sebelum secara rutin memberikan obat ini untuk mengobati pasien COVID-19," pungkas Dr Juurlink.

Friday, April 10, 2020

Lakukan 4 Hal ini Buat Tingkatkan Imunitas Tubuh Buat Lawan Virus Corona


Kasir4D Di tengah pandemi Corona COVID-19 menjaga imunitas tubuh sangat penting. Imunitas tubuh dapat membantu seseorang agar terhindar dari virus Corona yang saat ini telah menyebabkan ribuan orang meninggal dunia.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan imunitas tubuh seseorang. Berikut cara mudah untuk meningkatkan imunitas tubuh, dikutip dari Medical Daily. Togel Online

Konsumsi makanan sehat

Para ahli kesehatan mengatakan bahwa sistem kekebalan tubuh yang kuat dimulai dari memperhatikan asupan makan. Menurut Orlando Health, sebuah rumah sakit dari Orlando, Florida, usus yang sehat adalah kunci untuk melawan infeksi. Dalam laman website Orlando Health menjelaskan orang dewasa harus makan lima sehat empat sempurna.



https://bit.ly/kasir4d

Dokter dan ahli gizi merekomendasikan makanan seperti bayam, jamur, bawang putih, brokoli hingga stroberi. Makanan ini baik untuk dikonsumsi karena mengandung banyak vitamin dan nutrisi penambah imunitas tubuh.

Tidur yang cukup

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), orang dewasa setidaknya harus tidur selama 7 jam setiap harinya. Cukup tidur juga jadi salah satu cara untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

"Sistem kekebalan tubuh layaknya seperti komputer. Ia harus diistirahatkan agar tidak menjadi terlalu panas," kata Dr Mark Moyad dari Pusat Medis Universitas Michigan.

Hindari stres

Stres dapat berpengaruh pada imunitas tubuh. Menghindari stres sangat penting untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Karenanya, selama pandemi Corona, CDC merekomendasikan untuk membatasi membaca berita terkait virus ini. Karena terlalu banyak membaca berita Corona dapat meningkatkan kecemasan yang berdampak pada stres.

Olahraga teratur

Berolahraga secara teratur dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Olahraga dapat dilakukan di rumah untuk membuat kondisi tubuh Anda bugar.

Wednesday, April 8, 2020

Cukup Lakukan Beberapa Tahapan Cuci Tangan Yang Benar Untuk Terhindar Dari Virus Corona


Kasir4D Saat pandemi seperti ini, kamu diwajibkan untuk mencuci tangan dengan benar sebelum dan setelah memegang benda di sekitar kamu.

Tanpa adanya pandemi virus covid-19 ini pun memang wajib untuk mencuci tangan guna membersihkan kuman yang akan membahayakan.

Mencuci tangan juga tidak sembarangan hanya dengan membasahi tangan dengan air, ada beberapa langkah mencuci tangan yang sangat efektif untuk menghilangkan kuman yang berada ditangan. Togel Online

Sebagai langkah pencegahan virus covid-19 serta membiasakan diri untuk hidup bersih dan sehat.

Yuk lakukan 7 langkah mencuci tangan ini sesuai dengan anjuran WHO:
1. Telapak Tangan
Langkah pertama adalah menggosok telapak tangan yang sudah dibahasi dengan air mengalir dan sedikit sabun cuci tangan. Satukan telapak tangan lalu gosok perlahan hingga berbusa.

https://bit.ly/kasir4d

2. Punggung Tangan
Setelah melakukan langkah pertama, selanjutnya lakukan hal yang sama pada bagian telapak punggung tangan. caranya tangan bertumpuk dan gosok secara perlahan.

3. Sela-sela Jari
lanjut lagi ke sela-sela jari, caranya juga cukup mudah seperti menggenggam tangan sendiri dan gosok secsra perlahan. Pastikan seluruh sela-sela jari terkena sabun.

4. Punggung Jari
Lakukan juga pada bagian punggung tangan dengan gerakan saling mengunci dan memutar.

5. Jempol
Bersihkan juga jempol tangan dengan gerakan memutar secara bergantian. Jempol merupakan jari yang paling aktif saat melakukan aktivitas, pastikan jempol benar-benar bersih.

6. Ujung Jari
Langkah selanjutnya membersihkan bagian ujung jari, langkah ini berfungsi untuk membersihkan kuman-kuman yang terdapat pada kuku. Caranya kuncupkan jari dan bersihkan dengan gerakan memutar pada telapak tangan secara bergantian.

7. Bilas
setelah semua langkah di atas dilakukan, langkah terakhir adalah membilasnya. Usahakan membilas dengan air yang mengalir untuk membuang kuman yang terdapat dalam busa sabun. Bilas hingga bersih dan keringkan menggunakan handuk bersih.

Cukup mudah bukan 7 langkah mencuci tangan ? Selain mudah, langkah ini juga penting untuk mencegah penyakit dan tentu bisa membuat kamu dan keluarga terbiasa hidup sehat.

Tuesday, April 7, 2020

Apa Sakit Mata Bisa Jadi Pertanda Terkena Virus Corona


Kasir4D Sebagaimana infeksi pernapasan lainnya, virus corona COVID-19 umumnya ditandai dengan keluhan batuk dan sesak napas. Namun seorang ahli data mengaitkannya juga dengan sakit mata.

Kaitan tersebut terungkap dari hasil analisis pencarian di Google. Di negara bagian Amerika Serikat dengan jumlah kasus corona tinggi, terjadi peningkatan volume pencarian dengan kata kunci 'my eye hurt'. Togel Online

"Dengan kata lain, saya mengeksplorasi pertanyaan tentang gejala yang dicari dengan jumlah tidak biasa di negara bagian dengan kasus COVID-19 tinggi," jelas Seth Stephens-Davidowitz, dikutip dari New York Times.

https://bit.ly/kasir4d

Tiga pencarian paling tinggi yang terkait dengan gejala infeksi adalah 'loss of smell' atau kehilangan kemampuan mengendus bau, fever atau demam, dan menggigil.

Sakit mata berada di urutan keempat pencarian paling tinggi di negara bagian dengan jumlah kasus corona paling banyak. Bahkan lebih tinggi dibanding diare dan hidung tersumbat.

Pencarian terkait sakit mata dalam 7 hari terakhir paling tinggi di New York, New Jersey, Connecticut, Lousiana, dan Michigan.

"Pencarian-pencarian tersebut kelihatannya meningkat hampir eksklusif di wilayah tertentu yang memiliki jumlah kasus sangat tinggi," jelasnya.

Apakah berarti bisa disimpulkan sakit mata adalah gejala COVID-19? Ya tentu saja tidak, menurut sang pakar.

Monday, April 6, 2020

Obat ini Bisa Bunuh Virus Corona Dalam 48 Jam


Kasir4D Studi dari Monash University dan Doherty Institute bekerja sama dalam penelitian terbaru mereka terkait obat ivermectin yang diklaim ampuh atasi virus corona COVID-19. Obat tersebut bahkan disebut bisa membunuh virus corona dalam 48 jam.

Namun apa sih sebenarnya ivermectin?
Mengutip CNN, ivermectin adalah obat anti-parasit yang terbuktif efektif dalam mengatasi beragam penyakit termasuk HIV, Dengue, Influenza, dan Zika. 


Sekelompok peneliti Australia mendapatkan temuan kalau obat tersebut juga bisa dipakai pada virus corona COVID-19. Togel Online

Pasalnya, dalam temuan mereka obat ivermectin ini dapat menghentikan virus corona SARS-CoV-2 yang tumbuh dalam sel kultur. Obat itu dinilai secara efektif mampu menghapus semua bahan genetik virus dalam waktu 48 jam.

"Bahkan kami menemukan bahwa dosis tunggal pada dasarnya dapat menghapus semua virus selama 48 jam dan bahkan pada 24 jam ada pengurangan yang sangat signifikan dalam hal itu," jelas pemimpin penelitian ini, Kylie Wagstaff.




https://bit.ly/kasir4d

Menurut Wagstaff, mekanisme ivermectin membunuh virus tidak diketahui secara pasti. Namun, kemungkinannya obat tersebut bekerja menghentikan virus dengan melemahkan kemampuan sel inang.

Studi yang dipublikasikan di Antiviral Reseach pada Jumat (3/4/2020) ini dilakukan secara in vitro atau di dalam laboratorium. Sehingga uji coba klinis pada manusia perlu dilakukan sebelum digunakan secara luas.

Meski begitu, Wagstaff menyebut kalau obat ini bisa menjadi alternatif selama vaksin belum ditemukan. Maka dari itu dalam waktu dekat ia berencana melanjutkan penelitian dengan mencari dosis yang tepat untuk manusia.

"Ivermectin sangat banyak digunakan dan merupakan obat yang aman. Kami perlu mencari tahu berapa dosis yang efektif pada manusia," ungkapnya.

Sunday, April 5, 2020

Ciri-ciri Terinfeksi Virus Corona Pada Minggu Pertama


Kasir4D Berbagai penelitian di dunia menyebut gejala virus corona COVID-19 tak lagi batuk dan bersin. Hilangnya indra perasa dan penciuman sampai mata memerah juga disebut-sebut sebagai awal dari gejala corona.

Selain demam, pasien corona dilaporkan mengalami gejala lain yang muncul pada minggu pertama. Berikut ciri-ciri terinfeksi virus corona COVID-19 pada minggu pertama dirangkum detikcom dari berbagai sumber: Togel Online

1. Merasa lelah
Kelelahan termasuk ciri-ciri orang terinfeksi virus corona COVID-19. Tubuh terasa letih untuk beraktivitas seperti biasanya.

Kelelahan biasanya muncul ketika otot-otot yang ada di dalam tubuh menjadi tegang. Lalu, menurunnya fungsi otak untuk melakukan berbagai rutinitas setiap harinya.

https://bit.ly/kasir4d

2. Pegal-pegal
Selain itu, pegal-pegal termasuk ciri seseorang tertular virus corona COVID-19. Pada gejala ini, tubuh merespon dengan mengirimkan sinyal ke otot-otot yang ada di seluruh tubuh untuk meradang guna memerangi virus ciorona yang masuk ke dalam tubuh.

Seseorang yang terinfeksi virus corona COVID-19 pada pekan pertama akan merasakan sakit yang berlebihan pada otot dan jaringan di sekitarnya.

3. Batuk kering
Batuk kering juga menjadi ciri seseorang terinfeksi virus corona COVID-19. Pada fase ini, virus corona disebut sudah mulai menginfeksi saluran pernapasan.

Orang tersebut mengalami batuk kering dan rasa gatal di tenggorokan sebagai bentuk infeksi virus. Pasalnya, sistem kekebalan tubuh akan mengirim respon apabila terdapat patogen yang masuk ke dalam tubuh dengan batuk.

4. Demam
Orang yang terinfeksi virus corona COVID-19 pada minggu pertama akan merasakan demam yang tinggi. Terjadinya peningkatan suhu tubuh di atas normal di kisaran 38 derajat celcius ke atas. Jika suhu tubuh di atas 37,5, sebaiknya harus waspada karena kemungkinan besar itu merupakan gejala corona.

Tak heran, deteksi dini yang dilakukan biasanya mengecek suhu tubuh dengan thermal gun di beberapa tempat umum. Meski beberapa kasus terjadi tanpa gejala.

5. Tak nafsu makan
Sebagian orang yang terinfeksi virus corona COVID-19 mengalami gejala seperti hilangnya nafsu makan. Sebab, infeksi corona menyebabkan perut terasa tidak nyaman, mual, dan diare.

Namun, gejala ini jarang ditemukan dan tidak khas terjadi pada orang yang mengidap virus corona COVID-19.

Saturday, April 4, 2020

Ini Beberapa Trik Buat Uji Indra Penciuman Untuk Tes Gejala Corona


Kasir4D Pada kasus virus corona gejala ringan sampai sedang, beberapa pasien kehilangan indra perasa dan penciuman yang dianggap sebagai tanda awal terinfeksi COVID-19.
 

"Hal ini disebut anosmia, pada dasarnya berarti kehilangan indra penciuman yang tampaknya merupakan gejala yang berkembang pada sejumlah pasien," kata Kepala Koresponden Medis CNN, Dr Sanjay Gupta.

Sementara demam, batuk, dan sesak napas adalah beberapa gejala klasik COVID-19, sebuah analisis pada kasus ringan di Korea Selatan menemukan 30 persen pasien mengalami kehilangan indra penciuman. Di Jerman, dua dari tiga kasus yang dikonfirmasi menderita anosmia. Togel Online
 

American Academy of Otolaryngology dan Bedah THT Inggris, menyerukan agar kehilangan indra penciuman dan pengecap ditambahkan ke skirining deteksi virus corona. Melihat hal ini, bisakah melakukan uji sendiri untuk mengetahui apakah Anda mengidap anosmia?

Ya, trik sederhananya dengan menggunakan tes 'jelly bean' atau permen jeli. Berikut caranya seperti yang diungkap oleh ahli penciuman dan perasa, Steven Munger, direktur Center for Smell and Taste, Universitas California.

1. Ambil segenggam permen jeli di tangan kanan dan tangan kiri menutup hidung dengan erat sehingga tak ada aliran udara yang masuk.

2. Makan dan kunyah permen jeli tanpa melihat rasanya. Misalkan yang masuk ke mulut adalah rasa anggur atau buah lain, jika mengenali rasa gurih dan manisnya maka indra pengecap masih berfungsi normal.



3. Setelah itu, sambil masih mengunyah, lepaskan tangan kiri yang menutup hidung. Jika indra penciuman normal, maka kamu akan bisa mencium bau buah-buahan dari rasa dari permen dan dengan spontan berkata 'oh! itu rasa lemon' atau 'oh ternyata rasa ceri'. Respon ini akan berlangsung dengan sangat cepat setelah membuka penutup hidungmu.

"Jadi, jika kamu bisa merasakan dari manis ke asam lalu rasa yang 'penuh' di dalam mulut dan tahu dengan persis apa rasanya, maka indra penciumanmu dalam kondisi yang cukup baik," kata Munger.

Nama ilmiah dari proses tersebut adalah penciuman retro, di mana bau akan mengalir dari bagian belakang mulut melalui faring ke dalam rongga hidung.

Tapi, apakah harus dengan permen jeli?

Tenang saja, spesialis telinga, hidung dan tenggorokan Dr Erich Voigt, dari NYU Langone Health, mengatakan makanan lain juga bisa digunakan.

"Indra penciuman bekerja jika Anda bisa mencium bau tertentu tanpa memaksa saraf lain bekerja. Seperti contoh saat kamu bisa mencium aroma kopi saat seseorang membuatnya atau bisa mencium aroma dari seseorang yang sedang mengupas jeruk. Itulah indra penciuman," kata Voigt.

Kehilangan rasa biasanya dikaitkan dengan hilangnya bau, karena kita mengandalkan bau untuk mengidentifikasi rasa. 


Namun bisa saja seseorang kehilangan indra tersebut karena alasan medis, misalnya kemoterapi, konsumsi obat, dan radiasi. Atau kerusakan fisik seperti saraf terputus selama operasi gigi.

Friday, April 3, 2020

Ciri Infeksi Corona Yang Tidak Diketahui


Kasir4D Penyebaran virus corona di dunia semakin meluas. Bahkan, laporan terbaru menyebutkan ada infeksi virus corona tanpa gejala atau tidak menunjukkan tanda pada tubuh.
 

Hal ini tentu mengkhawatirkan karena dapat menyebar tanpa mengetahui apakah tubuh terinfeksi atau tidak. 

Pemerintah Indonesia melalui juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona Achmad Yurianto juga membenarkan hal itu. Togel Online

Ia menjelaskan infeksi corona tanpa gejala bisa terjadi dan umumnya menyerang anak muda. Akhirnya, anak muda pun menjadi carrier yang menyebarkan virus ke orang lain.

"Data yang kita miliki dan data yang dimiliki secara global memang pada kelompok usia muda lebih memiliki daya tahan yang lebih baik dari yang usia lanjut. 


Namun harus dipastikan bahwa bukan berarti yang kelompok muda ini tidak bisa terkena. Bisa kena dan tanpa gejala," kata pria yang akrab disapa Yuri ini, Sabtu (21/3/2020).

https://bit.ly/kasir4d

Ciri Infeksi Corona Tanpa Gejala:

Hilang Indera Perasa

Dikutip dari CNN, ciri infeksi corona tanpa gejala, yakni hilangnya kemampuan penciuman (anosmia) dan perasa (dysgeusia). Sehingga, ketika seseorang mengalami gejala tersebut disarankan untuk isolasi diri dan lakukan tes virus corona.

"Anosmia secara umum sudah terlihat pada pasien yang sudah dites positif corona tanpa gejala lainnya," kata peneliti dalam jurnal American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery.

Sementara itu, peneliti dalam riset yang lain mengatakan hilangnya kemampuan indera perasa menjadi gejala yang lebih akurat infeksi virus corona dibandingkan tanda yang lain.

Seperti diketahui, gejala umum virus corona menurut WHO adalah batuk, demam, dan sesak napas. Gejala sendiri akan muncul dalam waktu 2-14 hari setelah terpapar virus corona.

Profesor Tim Spector dari King's College juga membenarkan hal itu. Ia mengatakan hilangnya indera perasa membuktikan seseorang terinfeksi virus corona.

"Orang-orang dengan gejala kehilangan fungsi indra penciuman dan perasa ini tiga kali lebih mungkin membuktikan bahwa ia terinfeksi COVID-19. Jika itu terjadi, kami menyarankan mereka untuk mengisolasi diri guna mengurangi penyebaran penyakit," ungkap dia.

Untuk itu, pemerintah meminta masyarakat melakukan physical distancing atau jaga jarak fisik dan berkegiatan di rumah demi menghindari penyebaran virus dari infeksi corona tanpa gejala.